Yahh...apa boleh dikata, ternyata rencana pulang mudik pas lebaran kemarin gagal total. Semestinya lebaran tahun ini jadwalnya sih pulang ke Magetan (tempat kelahiranku dan keluarga serta mbah-mbahku berasal), itu tuh kota kecil yang indah dilereng gunung Lawu. Emang kebiasaan sebelumnya tiap tahun selalu bergantian pulang kampungnya, kalo nggak ke Magetan ya ke Blora (tempat keluarga istri dan mbah-mbahnya berasal). Dan baru tahun ini tidak kedua-duanya, hanya pulang sebentar ke Surabaya (kota tempat keluargaku dan keluarga istri sekarang menetap). Tapi aku harus tetap bersyukur karena bagaimanapun juga aku masih diberi kesempatan olehNya untuk merayakan lebaran bersama keluarga.
Tak sia-sia juga, di Surabaya yang cuacanya saat ini sedang panas-panasnya, aku ketemu sobat lama. Saat pertama mendengar ceritanya hati ini nggak bisa menyembunyikan rasa "trenyuh" yang mendalam, bagaimana tidak ternyata beberapa waktu yang lalu dia dan adiknya secara hampir bersamaan di PHK dari tempat bekerjanya. Yang bikin aku nggak sia-sia di Surabaya adalah bahwa aku merasa bangga punya sobat seperti dia, why?!.
Ini yang menarik, sebelumnya dia yang bekerja di sebuah perusahaan yang boleh dibilang bonafide dan adiknya yang bekerja disebuah bengkel ternama di Surabaya tidak merasa gengsi ataupun malu ketika harus mencari dan berusaha lagi mendapatkan pekerjaan untuk menghidupi keluarganya. Mulai dari buruh bangunan, tukang cat dan apa saja yang sebelumnya tidak pernah terpikir olehnya, yang penting halal dan bermanfaat lahir batin. Dan alhamdulillah ketika suatu saat dia berpikir untuk serius sebagai tukang cuci motor di kampung. Mungkin anda bertanya dalam hati kok hanya sebagai tukang cuci motor aja alhamdulillah?
Allh maha adil dan sayang kepada orang-orang yang mau berusaha tanpa mempedulikan rasa malu ataupun gengsi. Pas aku tanya dalam sehari bisa sampai mencuci motor berapa? sobatku sih nggak jawab 10 atau 20 motor tapi yang pasti kalo dirata-rata perbulan penghasilannya jauh melebihi dari hasil kerja diperusahaan sebelumnya. Bukan main bahkan sekarang adiknya pun dimintai tolong untuk membantunya.
Bagiku ini adalah sebuah proses pembelajaran hidup yang nggak bisa diremehkan begitu saja. Sikap sederhana disertai tanpa rasa gengsi tapi penuh tanggung jawab adalah kunci kesuksesannya. Jadi mulai sekarang tutup mata, mulut dan telinga anda dari sikap yang mungkin meremehkan orang-orang yang bekerja dipinggir jalan sebagai tukang sapu, cuci motor ataupun apa saja yang bagi kita tidak mungkin kita lakukan hanya karena malu dan gengsi, tapi lihatlah dan rasakan dari sisi keikhlasan serta tanggungjawabnya dari cara mereka bekerja.
Bagaimana dengan anda?.....Semoga sukses dech sobatku, terima kasih mau berbagi cerita denganku. Lebaran yang nggak sia-sia, lebaran yang penuh makna.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar